Alifa Shavira: Harumkan Indonesia di Negeri Beruang Putih

Beberapa bulan terakhir, saya banyak berkecimpung dalam kaderisasi Fikom. Mulai dari yang skalanya fakultas, sampai yang skala komunitas. Waktu itu, radio komunitas kampus yang menaungi saya sedang regenerasi anggota atau yang keren dengan istilah open recruitment. Beberapa wajah baru mendatangi studio siaran di lantai empat Pascasarjana Fikom Unpad.

Sejumlah mahasiswa baru yang notabene belum banyak mengenal kampus memenuhi ruangan berbentuk kotak itu. Proses regenerasi anggota belum selesai sampai itu. Masih ada tahap selanjutnya yakni diklat dan magang. Salah satu calon anggota menarik perhatian, namanya Alifa Shavira. Ia jadi buah bibir anggota lama. Walau raganya sedang di Rusia, tapi ia tetap mengikuti magang FUN Radio.

Alifa sempat kena omelan teman kelompok magangnya. Tak membalas pesan singkat orang yang menerornya beberapa jam itu bukan tanpa alasan. Tapi saat di Rusia, memang ia kesulitan untuk mendapat koneksi internet. Dari 12-24 Oktober 2017, ia mewakili Indonesia dalam World Festival of Youth and Students (WFYS) di Sochi, Rusia, bertepatan pula dengan jadwal magangnya.

S_7025308631293
Foto: Dokumen Pribadi

Tak disangka, komitmen Alifa untuk mengerjakan tugas magang dari jauh dilihat rekan-rekan saya. Akhirnya ia diterima sebagai penyiar dan mengurus media sosial radio komunitas berwarna hitam-kuning ini. Pengalamannya dalam bidang Jurnalistik cukup banyak. Mulai dari mengikuti kegiatan serupa di sekolah menengahnya, sampai meraih juara untuk tulisannya di majalah Hai.

Gagal diterima di Jurnalistik Fikom Unpad tak mematahkan semangatnya. Ia tetap bersinar dalam kancah internasional. “Kalau keterima ini program, bakal jadi delegasi ke luar negeri di semester pertama. Belum tentu temen lain yang maba bisa gini,” ujarnya saat hendak mengikuti WFYS.

“Kalau keterima ini program, bakal jadi delegasi ke luar negeri di semester pertama. Belum tentu temen lain yang maba bisa gini,”

Berasal dari timur Jakarta, Alifa yang jadi minoritas di Rusia mendapat pengalaman religi. Bertemu dengan saudara muslimnya membuat ia makin jatuh cinta dengan Bahasa Arab. Selain itu, ia juga merasa peduli akan sesama. Melihat berbagai macam orang yang jauh lebih hebat, ia jadi termotivasi untuk terus berprestasi. Salah satu caranya adalah menargetkan dirinya untuk berangkat ke luar negeri tiap semester.

Bukan perkara mudah untuk jadi delegasi, ia mempersiapkan uang yang cukup banyak, mengikuti tes TOEFL dan IELTS dan menulis beberapa essay. “Asal pede aja dan jadi diri sendiri kalau udah sampai di sananya,” tambah mahasiswi Manajemen Produksi Media tingkat awal ini.

Lahir di Malang, 9 Januari 1999, ia mengaku lebih suka pada isu sosial, politik, pendidikan, dan kesehatan. Tapi di balik sosoknya yang terlihat berwibawa, ia masih anak muda yang suka nonton film menye (romansa). Kesukaannya pada musik juga membawa dirinya menjadi penyiar. Sewaktu di SMA, ia berusaha untuk merintis kembali radio sekolahnya. Niatnya setelah mengudara di FUN Radio adalah kembali ke SMA yang sudah membesarkannya dan membantu adik-adiknya di bidang broadcast.

Ia sudah didoktrin sejak kecil untuk menjadi contoh bagi kedua adiknya. Ayahnya yang berprofesi sebagai tentara menjadikan ia berani dalam hal apapun. “Even bukan jadi orang terkaya atau terkenal di keluarga, tapi yang bisa kulihat dari ayah itu jadi teladan dan panutan yang baik.” (AOH)

Jalin Relasi dari Tahu Sumedang

P_20170412_145008
(Foto: Anggita) Mang Dede saat diwawancarai di PPJ Fikom Unpad (12/4/2017) sambil melayani pelangganya yang membeli tahu sumedang

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad sudah tak asing dengan kehadiran Mang Dede. Menjajakan tahu sumedang sejak delapan tahun lalu, Mang Dede yang memiliki nama asli Dede Udin mengaku senang bisa mengenal mahasiswa yang sudah dianggap seperti saudara. Di kota kelahirannya ini Mang Dede mencari peruntungan bagi keluarganya.

Berawal dari buruh pabrik tahu di Sumedang, ia beralih profesi menjadi pedagang tahu sumedang. Mang Dede menyampaikan lelahnya bekerja di sana. Setelah memutuskan berhenti, ia dapat mengatur jadwalnya dan membantu mempersiapkan dagangan istrinya di pagi hari. Tak terikat dan bisa menentukan waktu kerjanya menjadi nilai tambah dari berdagang.

Dari pukul 9 pagi Mang Dede sudah nangkring di kampus. Bersama container yang berisi ratusan tahu itu, Mang Dede memarkirkan motor di parkiran Fikom. Walaupun tahunya diminati mahasiswa – dilihat rata-rata jumlah tahu yang dijual ke tiap konsumennya – tapi jualannya tak selalu ludes. Tak jarang pula tahunya tersisa banyak.

Pernah beberapa kali Mang Dede sudah sampai di kampus untuk berdagang. Tapi sesampainya di sana, datanglah info bahwa mahasiswa diliburkan. Tahu-tahunya tersisa banyak. Dengan kebingungan itu akhirnya ia memutuskan untuk membawa pulang tahunya untuk diolah istrinya.

Biasanya tahu khas Kabupaten Sumedang ini dikelola menjadi gehu oleh istri Mang Dede. Gehu merupakan akronim dari toge dalam tahu. Gehu merupakan makanan khas Sunda. Selain diisi dengan toge, gehu juga dapat diisi dengan bahan lain seperti wortel, kol, daging, dan cabai.

Di sela-sela kesibukannya menjajakan tahu, Mang Dede masih sempat bercengkrama dengan mahasiswa yang membeli tahunya. Walau merasa lelah berdagang, tapi Mang Dede merasa kewajibannya sebagai pemimpin keluarga adalah menafkahi keluarganya. Di usianya yang hampir menginjak 50 tahun ini, Mang Dede bekerja semaksimal mungkin. Apapun pekerjaannya yang penting halal untuk keluarganya.

Mang Dede merasa senang bisa berjualan tahu di Fikom. Menurutnya tiap orang sudah memiliki profesi masing-masing. “Yang penting ambil nikmatnya saja biar barokah,”. Selain itu Mang Dede juga senang melihat mahasiswa yang melakukan danus (dana usaha) karena dapat membuat mereka belajar kerja keras.

Beberapa waktu lalu, Mang Dede resmi memiliki mantu. Pasalnya putri sulung Mang Dede telah dipinang oleh lelaki idamannya. Dalam resepsi putrinya ini Mang Dede juga menyajikan tahu sumedang gratis untuk tamu. Di sana Mang Dede juga mengundang mahasiswa dari berbagai fakultas yang ia kenal.

Bisa menyekolahi anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi, Mang Dede berprinsip untuk mewarisi ilmu.”Ilmu itu InsyaAllah barokah dan bermanfaat bagi orang lain,” ujar Mang Dede.

Termotivasi dari orang tuanya, Mang Dede menekankan anak-anaknya untuk semangat belajar. Mang Dede juga mengajarkan anaknya untuk taat pada orang tua, belajar dengan benar, dan tak banyak bermain. Dengan suaranya yang khas Sunda, Mang Dede berpesan untuk semangat belajar. “Kasihan kan sama orang tua, udah kerja keras. Anak harus pandai menggunakan waktu untuk mencari ilmu,” tambahnya lagi.

Berkat kerja kerasnya ini, Mang Dede dapat mengantarkan putrinya sampai wisuda. Saat ini putrinya tengah menjadi guru agama Islam pada sebuah sekolah di Sumedang. Melanjutkan dari pesantren, Mang Dede mengarahkan anaknya untuk memilih jurusan Pendidikan Agama Islam karena sudah punya landasan yang kuat.

Mang Dede selalu mengutamakan menghargai sesama, sopan santun, dan etika. karena menurutnya nilai-nilai tersebut sudah diajarkan sejak kecil. Dengan pergeseran nilai budaya saat ini, Mang Dede merasa kuatir dengan pergaulan bebas. Hal tersebut menjadi kesalahan orang tua karena tak membimbing dengan baik.

“Kalau anak sekolah, mungkin ada jasa penyaluran (minat). Jadi tidak ada pergaulan bebas yang merusak akhlak. Kasihan anaknya. Orang tua harus mengarahkan ke ranah positif,” ujar pria yang tinggal di daerah Hegarmanah, Jatinangor ini.

Hari Baik dan Kebaikan yang Terabaikan

Hari ini umat Kristiani merayakan Jumat Agung. Saya sebagai umat Muslim sangat menghargai teman-teman yang merayakan, terutama orang terdekat saya. Memang sih, agaknya sensitif membicarakan agama. Tapi sedikit banyaknya tulisan ini murni hanya ungkapan perasaan saya.

Beberapa teman saya memutuskan untuk pulang ke rumah untuk merayakan hari ini. Tak sedikit pula yang tinggal di kota karena kampung halamannya jauh. Sudah seharusnya saya sebagai teman mengucapkan hari yang baik ini pada mereka, bukan?

Ada di antara mereka yang saya ucapkan “Happy Good Friday”. Salah satunya berterima kasih, dan ada satu yang mengatakan hal yang tak saya duga.  “Paan sih ah,” ujar salah satu teman lainnya.

Teman yang menjawab demikian termasuk orang terdekat saya. Bisa dibilang, kami berhubungan. Entah orang mau menafsirkannya seperti apa, intinya saya menaruh perasaan. Kami sering ngobrol lewat line, tapi hal tersebut jadi alasan karena kami jarang ngobrol langsung akhir-akhir ini.

Entah mengapa setelah ‘kejadian’ itu, saya langsung menangis terisak-isak. Baru pertama kali dalam hidup, saya merasa ditolak sedemikian buruknya. Padahal niat saya baik sebagai teman.

Di luar hubungan kami yang tak jelas sebutannya (dalam budaya kami) apa,  saya masih bersikap profesional. Di mana saya harus menjadi rekan kerjanya, saya tahu batasan dan bagaimana saya harus bersikap. Tapi kadang perasaan (yang lebih dominan saya miliki) membatasi ruang kerja kami. Padahal saya sudah biasa saja.

Jika memang ia sengaja menjawab seperti itu agar saya membencinya, cara ini murahan. Tapi jika ia memang benci saya, maka saya tak tahu bagaimana menyikapinya. Memang saya kelewat baper, tapi saya yakin hal yang saya lakukan benar sebagai teman yang toleran.

Mungkin saya yang salah.

Sebuah Tanda Tanya

Di ruang asing itu, kami bercerita tentang hidup, mempersoalkan diri masing-masing. Untuk pertama kalinya, ada yang bercerita sejauh itu denganku. Padahal kami belum lama mengenal.

Di bawah atap yang sama, kami bergurau. Tubuhnya terlentang di sana dan di sini, mencari-cari tempat yang nyaman untuk tidur. Andai saja ia tahu aku ini rasa nyaman. 

Esoknya hidup makin tak wajar. Gelap gulita dan dingin, hujan membasahi permukaan lagi. Aku tak sanggup. Untuk waktu yang lama aku terdiam. Bukan diam yang biasa, tapi berkontemplasi dengan keinginan.

Amarah dan kesedihan, akhirnya mendorongku berkata demikian. Dekap aku. Kami bingung. Dalam belasan menit, aku sudah didekapnya.

Malam itu panjang dan kami bertanya-tanya. Apakah salah? Ah, kami tak tahu. Yang kami tahu tak akan ada yang berubah, bukan begitu?

Ternyata semua salah.

 

Anestesi

Hari ini berbeda
Biasanya kita bersua
Kali ini tanpa suara
Janggal rasanya

Wajahmu temaram
Sambil mengingat tajam
Perkara kita semalam
Aku hanya memejam

Padahal aku yang sedih
Aku yang merintih
Dengan suara yang lirih
Mendengar kau terkikih

Awal Baru

Senja itu
Bersama tanganmu yang jadi selimut
Aku berkontemplasi dengan sunyi
Kita berdua mendekap erat

Tanpa jarak untuk bernapas
Tanpa jeda untuk berpikir
Aku merasa nyaman
Dalam bisu yang kita ciptakan

Rasa itu
Baru muncul sedari dini
Aman yang kurasakan
Sakit yang kudapatkan

Tak lama kau bicara lagi
Memecah keheningan sejenak
Dengan jari menari di atas huruf-huruf
Bercanda dengan kekasihmu